Berempat.com

Setelah sebelumnya mantan CEO Uber Travis Kalanic harus berurusan dengan pihak berwajib akibat dugaan pelecehan seksual, kini Uber kembali harus berurusan dengan pihak berwajib. Kali ini, layanan taksi online itu dituding terlibat aksi mata-mata.

Mengutip dari berkabar.id dan CNET, ternyata Uber diduga telah memata-matai salah satu kompetitornya di dunia taksi online, yakni Lyft. Mereka diduga telah membuat sebuah program rahasia yang bernama Hell.

Kasus ini telah ditangani oleh kantor pengacara di New York yang dibantu oleh FBI. Mereka telah menyelidiki kebenaran dari kasus ini. Jika terbukti, maka Uber bisa terkena masalah yang cukup besar. Melalui juru bicaranya, pihak Uber menyatakan kesiapan mereka untuk bekerja sama denga polisi untuk penyelidikan kasus ini.

Program ini pertama kali diungkap oleh The Information dalam sebuah artikel pada April lalu. Mereka mengatakan bawa program ini berfungsi melacak pengendara Lyft menggunakan akun pengguna palsu.

Dengan cara tersebut, Uber dapat mengetahui kapan dan dimana saja pengendara Lyft beroperasi. Hal ini dilakukan guna melacak para mitra pengendara Uber yang juga menggunakan aplikasi Lyft untuk menambah pendapatan mereka.

Namun pihak Uber mengaku, mereka sudah lama tidak menggunakan aplikasi tersebut. Mereka menyebutkan bahwa aplikasi tersebut telah dinonaktifkan semenjak 2016 silam.

Sebelumnya, Uber juga pernah terkena masalah terkait penggunaan aplikasi terlarang. Saat pertama kali beroperasi, Uber pernah menggunakan aplikasi bernama Greyball, yang berfungsi untuk menyebunyikan diri dari regulator di kawasan Uber tak boleh beroperasi.

Berempat.com