Logo Aplikasi WhatSapp. Foto: Istimewa
Logo Aplikasi WhatSapp. Foto: Istimewa

Berkabar.id – Belum lama ini, dunia telah merayakan ulang tahun ke-25 SMS, sebuah teknologi konvensional untuk berkirim pesan. Pesan pertama via SMS dikirim oleh Neil Papworth selaku pengembang aplikasi dari Sema Group, dengan memanfaatkan komputer melalui jaringan Vodafone untuk mengucapkan ‘Merry Christmas’.

Saat ini, dunia telah memiliki cara lain untuk berkirim pesan. Cara itulah memanfaatkan aplikasi instan seperti WhatsApp, Massenger, Line, WeChat, Telegram, maupun Blackberry Messenger (BBM).

Secara fitur, kini aplikasi pesan instan lebih unggul. Paling dasar, ia tak dibatasi jumlah karakter selayaknya SMS dengan angka keramat 160 karakter. Selain bisa dimanfaatkan untuk chit-chat, aplikasi pesan instan pun bisa dimanfaatkan untuk mengirimkan berbagai file multimedia, seperti foto, lagu, file lainya. Hal tersebut mustahil dilakukan SMS.

Selain itu, aplikasi pesan instan seperti WhatsApp maupun Line bisa digunakan sebagai ruang-ruang diskusi khusus dalam bentu ‘Grup’.

Layanan grup ini jelas banyak manfaatnya, mulai dari untuk menjalin tali silaturahmi, kebutuhan pekerjaan, hingga tempat berkumpulnya virtual alumni sekolah. Masing-masing aplikasi pesan instan, mewadahi bentuk grup yang berbeda dengan ragam tujuan.

Disetiap aplikasi pesan instan memiliki aturan main berbeda untuk pengelolaan grup ini. Tidak terkecuali yang dibuat di WhatsApp, aplikasi pesan yang kini dimiliki oleh pihak jejaring sosial terbesar di dunia, yakni Facebook.

Yang terbaru ini, dikutip dari The Independent, WhatsApp berniat mengeluarkan aturan main suatu grup yakni dengan memberikan kekuasaan yang lebih besar kepada pemegang admin. Kekuasaan itu ialah fasilitas ‘Menyumpal’ mulut setiap anggotanya. Informasi fitur baru ini terdeteksi dari WABetainfo, dalam versi beta WhatsApp apda iOS dan Android.

Pada fitur bernama Resticted Groups ini bila diaktifkan oleh admin grup, maka setiap anggota grup tidak bisa mengirimkan pesan apa pun di grup tersebut. Para anggota hanya bisa menerima pesan-pesan yang dikirimkan admin saja. Jika mendesak, anggota grup bisa meminta admin untuk mengirim pesan.

Menurut informasi yang diterima, fitur baru tersebut hanya bisa aktif selama 72 jam. Selepasnya, grup kembali keadaan semula. Anggota grup kembali bisa mengirimkan pesan apa pun di grupnya tersebut.

Fitur baru tersebut secara tidak langsung mengubah grup WhatsApp menjadi semacam kanal penyiaran. Ini menjadikan grup yang mengaktifkannya, memiliki fungsi yang mirip dengan fitur bertajuk ‘Channels’ yang dimiliki Telegram.

Mengutip laman resmi layanan milik Pavel Durov itu, Channels diartikan sebagai “layanan untuk menyebarluaskan pesan pada khalayak luas.”

Beruntungnya, fitur yang disung WhatsApp tersebut belum bisa dimanfaatkan. Ia baru sebatas uji-coba di kalangan terbatas.

Mengapa WhatsApp berikan fasilitas semacam ini?

Fitur baru dalam grup WhatsApp tersebut meskipun belum diluncurkan resmi, mengundang banyak pertanyaan. Mengapa fasilitas ini dimunculkan? Pasalnya, grup dalam aplikasi perpesanan seperti WhatsApp, umumnya dibuat dalam kerangka menjalin relasi.

Dikutip dari tirto.id, Seorang bernama  Romdhi, 33 tahun, salah satu pengguna WhatsApp mengatakan bahwa grup-grup yang diikutinya umumnya bersifat sama rasa sama rata. Atas sifat demikian, Romdhi, yang juga menjadi seorang admin di beberapa grup, tidak pernah memanfaatkan “kekuatan” yang dimilikinya untuk memakai fasilitas mengeluarkan anggota dalam suatu grup WhatsApp.

“Enggak pernah (mengeluarkan anggota). Artinya itu kontra dengan tujuan grup. Dalam kehidupan sehari-hari ada aja orang bermasalah dengan yang lain. Tapi kan tujuan grup untuk mengumpulkan mereka-mereka, meskipun bermasalah tetap berkumpul. Harus berkumpul dengan dinamika seperti itu,” ungkapnya.

“Grup itu sifatnya horizontal karena pertemanan, meskipun grup kantor pun sifatnya horizontal. Karena ini sharing info, jarang perintah-perintah lewat grup kantor. Perintah resmi tetap via surat. Di grup cuma sharing aja,” tambah Romdhi menerangkan.

Romdhi mengatakan bahwa ia merupakan seorang admin di lebih dari 10 grup WhatsApp. Menurutnya, admin bukanlah sosok yang “terlalu signifikan.” Admin ditunjuk “berdasarkan keaktifan dan dia bisa me-manage” grup yang dibentuk.

Menurut Ramdhi, admin adalah sosok penata dalam grup tersebut. Ia bertugas lebih untuk menentukan siapa yang bisa masuk atau tidak pada suatu grup guna menata grup menjadi lebih relevan. Admin, bukanlah sosok arogan yang menentukan hidup-mati para anggota sebuah grup.

“Admin grup itu biasanya lebih ke menentukan siapa yang masuk ke grup itu, dia kan bisa invite orang. Misalnya ada konflik ada masalah di grup itu salah satu ada keluar, bisa diinvite balik. Kita PM (private message) untuk kenapa? Nanti kita masukin lagi,” ungkap Romdhi.

“Biasanya kita mengingatkan sih. Ada satu grup dia suka diskusi soal agnostik gitu, beberapa yang lain mungkin karena sudah terpisah lama, literasi beda, beda usia, latar belakang lain-lain, sudah sendiri-sendiri. Ketemu lagi dalam grup dengan pandangan masing-masing. Untuk kasus itu kita mengingatkan,” pungkasnya.

Editor: R. Shandy