Ilustrasi Serangan Siber (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Serangan Siber (Foto: Istimewa)

Berkabar.id – Perkembangan internet dan teknologi informasi yang sangat pesat memengaruhi secara langsung kebutuhan pokok akan informasi dalam kehidupan manusia saat ini.

Karena informasi yang didapat secara cepat, tepat dan akurat memainkan peranan sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia, seperti sebagai alat bantu dalam proses pengambilan keputusan penentuan sebuah kebijakan.

Saat ini semakin banyak kalangan pemerintah baik sipil maupun militer, bisnis, organisasi nirlaba, hingga individu yang menjadi sangat ketergantungan dengan fenomena di zaman informasi ini. Sehingga muncullah istilah yang sering dikenal dengan abad informasi.

Namun kenyamanan serta kemudahan yang ditawarkan di abad informasi tersebut sekaligus mengundang terjadinya tindakan kejahatan atau kriminalitas di dunia maya. Atau yang biasa disebut dengan “serangan siber”.

Rudiantara selaku Menteri Komunikasi dan Informatika sendiri telah menyatakan bahwa kesadaran masyarakat Indoneseia terhadap keamanan siber masih tergolong sangat rendah. Budaya tersebut, menurutnya, tidak perlu muluk-muluk dengan teknologi canggih, tetapi bisa dilakukan mulai setiap individu.

“Sederhana, semua dimulai dari kita sendiri. Kita ini belum memiliki budaya cyber security. Contoh, ini kan teman-teman ada yang pakai Gmail, Yahoo. Kapan terakhir ganti password?” kata Rudiantara pada awak media saat ditanyai mengenai kondisi keamanan siber di tanah air pada acara Cyber Security Indonesia 2017 di JCC, Rabu (6/12).

Dirinya pun berharap dan meminta sosialisasi mengenai keamanan siber digencarkan, sebab Indonesia masih berstatus sebagai negara yang paling gampang diserang keamanan sibernya.

Dikutip dari Index Security, frekuensi Indonesia diserang peretas masih di atas rata-rata dibanding negara lain di dunia.

Merujuk pada data yang dirilis International Telecommunication Union (ITU) mengenai Indeks Keamanan Siber Dunia 2017, Indonesia memiliki komitmen cukup tinggi untuk menigkatkan keamanan siber dibandingkan negara-negara di benua Afrika dan Asia Selatan.

“Kalau dilihat index security, kita di Indonesia ini memang di atas rata-rata dunia. Kita masih nomor 70 kalau tidak salah, jadi masih banyak yang harus dikejar,” papar Menteri Rudi.

Sementara itu, untuk di kawasan Asia Pasifik, kesadaran terhadap isu keamanan siber ditempati oleh negara Singapura, Malaysia dan Australia.

Diketahui, di setiap negara menerapkan praktek yang cukup berbeda untuk keamanan siber. Selain pada tahap regulasi, pelatihan, hingga pengetahuan teknis, standar keamanan siber juga diterapkan pada organisasi yang terhitung rentan disusupi kejahatan siber.

Khususnya di Indonesia, Menkominfo meminta  masyarakat untuk membangun kebiasaan mulai dari mengganti kata kunci surel dan ATM. Dua hal itu saja, menurut Rudiantara, sudah mengurangi kemungkinan diretas sebesar 50 persen.

“Ini sederhana, membuat diri kita sadar akan keamanan siber. Kartu, akun email kita itu rentan terhadap security breach,” jelasnya.

“Jadi kalau kita rutin mengganti password akun email kita, apalagi akun email yang umum seperti Gmail, Yahoo dan perusahaan, itu setengah kita atau 50 persen kita terhindar dari security breach,” lanjutnya.

Meski hanya melakukan langkah yang sederhana, Rudiantara menilai rutin mengganti kata kunci surel akan berdampak besar pada ketahanan siber Indonesia. Selebihnya, Rudiantara meminta korporasi untuk melakukan tugasnya memperkuat pengamanan terhadap pelanggan.

“Hal itu akan memberi pengaruh dari ketahanan cyber security kita. Jadi kita tidak usah berpikiran yang canggih, biarkan korporasi melindungi dirinya dari cyber breach. Tapi kita sebagai masyarakat sadar ganti pin ATM dan password email aja dulu,” tutupnya.