Logo Unilever di Kantor Pusatnya (Unilever)
Logo Unilever di Kantor Pusatnya (Unilever)

Berkabar.ID – Salah satu perusahaan multinasional sekaligus pengiklan terbesar di dunia, Unilever mengancam akan menarik semua iklannya dari platform media sosial seperti Facebook, YouTube, dan platform sejenis lainnya. Hal tersebut bakal dilakukannya jika setiap perusahaan media sosial tersebut tidak bisa meminimalisir kemunculan konten negatif dan hoax di platform mereka.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kith Weed selaku Kepala Pemasaran Unilever. Keith meminta perusahaan platform media sosial untuk lebih meningkatkan standar penyaringan konten-konten yang dinilai negatif dan beracun.

Keith mengambarkan platform mereka sebagai lingkungan online yang beracun karena banyak berisi propaganda, ujaran kebencian, dan konten negatif hingga hoax yang akan mengganggu perkembangan anak-anak.

“Berita palsu, rasisme, seksisme, teroris menyebar kebencian, konten beracun yang menyasar anak-anak. Industri media digital harus mendengarkan dan melakukan tindakan terkait hal ini,” terang Keith Weed sebagaimana diwartakan oleh CNN, Senin (12/2).

Ancaman Unilever tentu mesti ditanggapi serius oleh perusahaan media sosial di dunia. Pasalnya, Unilever merupakan salah satu perusahaan dunia yang sangat royal dalam pembelanjaan iklan.

Berdasarkan data tahun lalu saja, Unilever menghabiskan sekitar US$ 9,5 miliar (Rp 129 triliun) untuk iklan sejumlah merek di bawah naungannya, seperti Dove, Lipton, Axem, Ben, dan Jerry. Dan seper empat dari budget tersebut, atau US$ 2,4 miliar (Rp 32,7 triliun) dibelanjakan untuk kepentingan iklan digital, maka dari itu wajar jika Unilever tak main-main membelanjakan anggaran iklannya di berbagai media.

Berempat.com

Keith Weed juga menyatakan bahwa perusahaannya berjanji akan terus meningkatkan lebih banyak konten yang bertanggung jawab, termasuk iklan yang mengatasi stereotype gender. Itu sebabnya mereka hanya akan bermitra dengan platform digital yang peduli akan hal tersebut. Juga yang menggunakan standar industri untuk metrik iklan dan meningkatkan pengalaman iklan konsumen.

Untuk sejauh ini, Keith Weed mengatakan bahwa pihaknya sudah berdiskusi dengan Facebook, Google, Twitter, Snapchat, dan Amazon mengenai hal tersebut. Munurut Weed, berdasarkan suara konsumen dalam beberapa bulan terakhir orang semakin perihatin dengan dampak digital terhadap kesejahteraan, demokrasi, dan pada kebenaran itu sendiri.

“Ini bukan sesuatu yang bisa disingkirkan atau diabaikan. Konsumen juga menuntut sebuah platform bisa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” sebutnya.

Google dan Facebook Mendominasi Iklan Online

Ilustrasi (Autetekno)
Ilustrasi (Autetekno)

Memang sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa Google dan Facebook mendominasi iklan secara online. Namun, di sisi lain mereka semakin mendapat tekanan dari para pembuat kebijakan, akademisi, dan kritikus industri agar lebih serius menangani kesalahan informasi yang beredar di platform mereka.

Di Amerika Serikat (AS), Facebook dan Google memakan hampir dua per tiga pasar iklan digital sebagaimana data terbaru yang pernah diungkap eMarketer. Google memiliki porsi 42% sementara Facebook berada di angka 23%. Dan menanggapi ancaman Unilever, Facebook berjanji akan berupaya sekuat tenaga agar platform-nya minimal dari konten negatif.

“Kami sangat mendukung komitmen Unilever dan kami selalu bekerja sama dengan mereka,” kata Facebook.