Teknologi drone militer via livescience.com

Google bekerja sama dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk mengembangkan sebuah software canggih khusus untuk drone militer.

Dilansir dari Live Science, Google telah menyepakati kerja sama dengan pemerintah AS ini dan nantinya, software pembelajaran mesin canggih ini akan membantu meningkatkan performa komputer Departemen Pertahanan AS dalam mendeteksi objek dari footage si drone pengawas.

Kerja sama baru ini awalnya terungkap karena adanya kebocoran dari mailing list internal Google di awal Maret lalu. Namun akhirnya, kerja sama antar kedua badan telah dikonfirmasi sendiri oleh mereka.

Kesepakatan ini menjadi bagian dari proyek inisiatif pemerintah AS yang disebut dengan Project Maven (dikenal juga dengan Algorithmic Warfare Cross-Function Team).

Project Maven, menurut Departemen Pertahanan AS, dibuat dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan AS dalam memenangkan perang dengan menggunakan algoritme komputer dan kecerdasan buatan atau AI. Caranya, adalah dengan meningkatkan kapasitas militer untuk menganalisa footage dari drone.

Hal pertama yang ingin dicapai oleh proyek ini adalah, mengembangkan kecerdasan buatan yang kapabel dalam mendeteksi “38 kelas objek” yang sering tertangkap oleh kamera drone, secara otomatis.

Teknologi semacam ini akan membantu para analis data dalam memeriksa video berdurasi jutaan jam yang terekam setiap tahunnya oleh drone-drone yang mengitari serta memantau wilayah konflik perang, seperti di negara Irak dan Suriah.

Kepala Algorithmic Warfare Cross-Function Team, Drew Cukor, mengatakan bahwa teknologi AI tidak akan digunakan untuk memilih dan mengunci target perang dalam waktu dekat. Namun, apa yang AI lakukan adalah untuk membantu pekerjaan operator manusia.

Google dilaporkan akan membantu Departemen Pertahanan AS untuk mencapai tujuan mereka dengan menyuplai software yang disebut dengan TensorFlow application programming interfaces (APIs). Software ini sering digunakan untuk membangun jaringan neural.

Teknologi ini, menurut Google, akan menandai sejumlah gambar atau objek untuk dikaji oleh manusia, dan hanya akan digunakan untuk keperluan non-ofensif.

Tapi menurut laporannya, Kawan Sumber, sejumlah staf Google merasa tidak senang akan keputusan perusahaan mereka yang “meminjamkan” teknologi Google dalam operasi drone kontroversial tersebut.

Kendati demikian, Cukor berpendapat bahwa teknologi kecerdasan buatan diyakini akan memengaruhi semua aspek kehidupan manusia.

Sumber: Sumber.com