Xiaomi Redmi Note 5 (Issak Ramadhan/JawaPos.com)

Pasar smartphone tanah air tengah hangat. Tercatat ada lima vendor smartphone yang meluncurkan produk terbarunya. Dua di antaranya yang sudah meluncur beberapa waktu lalu, yakni Vivo dan Xiaomi.

Di pasar smartphone sendiri, beragam strategi dikerahkan vendor untuk memenangkan persaingan yang kian sengit. Xiaomi Redmi Note 5 misalnya. Di pasar Tiongkok dan India, Xiaomi Redmi Note 5 membawa chipset Qualcomm Snapdragon 625. Sementara di Indonesia hadir lebih unggul, yakni Snapdragon 636.

Hal tersebut sontak membuat Xiaomi menjadi bahan perbincangan di pasar tanah air. Betapa tidak, utak-atik spesifikasi yang dilakukan Xiaomi seolah menyentil kompetitor senegaranya, yakni Vivo yang meluncurkan produk terbarunya, V9, akhir bulan lalu.

Vivo V9
Vivo V9 (Istimewa) 

Pasalnya, Vivo V9 justru melakukan sebaliknya, yakni menurunkan spesifikasinya untuk pasar Indonesia. Padahal, Vivo V9 yang meluncur di pasar global memiliki spesifikasi lebih tinggi.

Beberapa sektor yang mengalami pemangkasan spesifikasi adalah kamera dan chipsetnya. Vivo V9 di pasar global diketahui memiliki chipset Snapdragon 626. Berbeda dengan yang dibawa di Indonesia yang hanya menggunakan Snapdragon 450.

Lainnya adalah kamera ganda dengan lensa 16 MP dan 5 MP yang hadir pada Vivo V9  pasar global. Sementara untuk Indonesia, Vivo V9 hanya hadir dengan kamera beresolusi 13 MP dan 2 MP.

Seperti diberitakan sebelumnya, Vivo memiliki sejumlah alasan terkait pemangkasan atau downgrade spesifikasi untuk produknya. Menurut Vivo, chipset tersebut lebih cocok untuk masyarakat Indonesia mengingat harganya tidak terlalu mahal. Namun, kendati Vivo berkelit, banyak yang menyebut bahwa Vivo tidak seharusnya melakukan hal demikian.

Selain Vivo, pabrikan ponsel asal Korea Selatan (Korsel) juga kedapatan mengakali spesifikasi. Sebut saja untuk produk flagship yang duo Galaxy S9 dan Galaxy S9 Plus yang hadir untuk pasar tanah air. Duo Galaxy S9 untuk pasar tanah air hadir dengan chipset yang berbeda dengan versi global.

Daratan Eropa dan Amerika, pembeli Samsung Galaxy S9 di sana bisa merasakan ketangguhan Qualcomm Snapdragon 845. Namun untuk pasar asia, pencinta gadget harus puas dengan chipset Exynos 9810.

Meski performanya diakui sama oleh Samsung, banyak pihak menilai faktor chipset yang berbeda untuk pasar Global dan Indonesia cukup berdampak pada performa yang akan dihasilkannya. Banyak yang menyebut bahwa Exynos 9810 tak cukup hebat untuk bersaing dengan Snapdragon 845 yang waktu itu perdana digunakan Samsung dengan duo Galaxy S9-nya.

Menyoal utak-atik spesifikasi, Associate Market Analyst dari international data corporation (IDC) Indonesia Risky Febrian mengatakan, yang dilakukan vendor dengan utak-atik spesifikasi pada produknya cukup memengaruhi minat beli.

“Konsumen sekarang sudah cukup cerdas. Bisa dilihat dari berbagai aktivitasnya baik di jejaring sosial, forum diskusi, dan komunitas. Komentar-komentar soal suatu produk smartphone ramai di situ. Artinya apa? Mereka memperhatikan dan cukup jeli menimbang produk yang akan dibelinya,” ujar Risky kepada JawaPos.com dalam sebuah kesempatan.

Dia mengamini bahwa apa yang dilakukan Vivo dengan downgrade di sejumlah sektor, kemudian Xiaomi justru melakukan upgrade, akan menentukan minat beli konsumen. “Ini merupakan langkah atau strategi dari masing-masing vendor dan langkah tersebut menentukan minat beli,” pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com