Menkominfo Rudiantara di Kantor Kemenkominfo di Jakarta, Selasa (15/5). (Rian Alfianto/JawaPos.com)

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggelar pertemuan dengan sejumlah perwakilan media sosial (medsos) di Indonesia. Mereka di antaranya, Facebook, YouTube, Twitter, dan Telegram. Hal ini guna menindaklanjuti maraknya kejadian berunsur radikal dan terorisme.

Menkominfo Rudiantara mengaku ingin mengetahui hal-hal apa saja yang sudah mereka lakukan terkait dengan penanganan konten negatif berunsur radikalisme. “Ada ribuan akun yang terindikasi masuk ke dalam kategori berunsur radikalisme. Ratusan di antaranya sudah di-take down atau sudah di-remove. Namun masih ada pula yang belum dilakukan penghapusan. Sebanyak 280 akun di layanan Telegram sudah dihapus dan langsung di-take down,” kata Rudiantara di kantor Kemenkominfo di Jakarta, Selasa (15/5).

Sementara untuk Facebook, lanjut dia, ada sekitar 450 akun serupa. Sebanyak 300-an di antaranya juga sudah di-take down. Lainnya untuk platform berbagi video YouTube ada sekitar 250-an akun. Sebanyak 40 persen di antaranya sudah selesai ditangani dan di take down. “Sementara untuk Twitter ada sekitar 70-an akun dan setengahnya sudah dilakukan penutupan,” ungkapnya.

kemenkominfo blokir terorisme, konten terorisme radikalisme
Kepala Kebijakan Facebook Indonesia, Ruben Hattari di Kantor Kemenkominfo di Jakarta, Selasa (15/5). (Rian Alfianto/JawaPos.com) 

Lebih lanjut, Rudiantara menyebut untuk yang belum ditangani, Kemenkominfo bersama jajaran terkait seperti kepolisian dan pihak lainnya akan terus melakukan pemantauan. Ini akan dilakukan hingga semuanya benar-benar bisa ditangani.

“Perwakilan penyedia layanan over the top (OTT) yang kita panggil hari ini, Alhamdulilah mereka kooperatif. Alasannya karena terorisme dan tindakan radikal di dalamnya merupakan
musuh bersama yang harus ditangani,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Kebijakan Facebook Indonesia Ruben Hattari mengatakan, Facebook selaku penyedia layanan OTT turut prihatin dengan apa yang tengah menimpa Indonesia saat ini. “Untuk Facebook kita menjamin bahwa tidak ada ruang untuk hal demikian,” katanya.

“Kami itu platform yang tidak ada ruang untuk kekerasan. Apabila kita menemukan adanya hal tersebut yang mana itu melanggar daripada kesepakatan komunitas kami, maka kami
akan ambil tindakan,” tambahnya.

Senada, Kepala Kebijakan Publik Google Danny Ardianto mengaku turut berbela sungkawa atas tragedi kemanusiaan ini. Pihaknya juga terus bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat luas untuk menghapus konten-konten yang beraroma terorisme.

“Kami memiliki kebijakan yang kuat. Dalam YouTube sendiri juga tidak membenarkan adanya konten-konten radikalisme ada dalam platform kami. Kami juga terus bekerja untuk memastikan
bahwa tidak akan ada konten tersebut yang lolos dalam platform kamu,” katanya.

Terakhir, Rudiantara menambahkan, konten radikalisme dan terorisme di media sosial digunakan untuk beragam keperluan. Dia meminta masyarakat ikut aktif melaporkan bila menemukan adanya akun-akun atau channel yang mendistribusikan pesan-pesan bernada radikalisme di jejaring sosial.

Sumber: Jawapos.com