Berempat.com

Per hari ini Pertamina resmi menurunkan harga BBM, dimana harga Pertamax Turbo turun IDR 250/liter menjadi IDR 12.000 dan Pertamax turun IDR 200/liter menjadi IDR 10.200 per liter. Penurunan harga ini sebagai respon pertamina atas penurunan harga minyak mentah dunia menjadi USD 53,13 per barel (1 Barel = 159 Liter).

Penurunan harga ini menjadi sebuah tanda tanya bagi kalangan praktisi, karena berdasarkan hitungan pada harga minyak mentah sebesar USD 53,13 per barel dan Kurs IDR 14.348 per USD, maka seharusnya harga pertamax Turbo (RON 97) maksimal IDR 8.000/liter dan Pertamax (RON 92) di kisaran IDR 6.000/ liter atau lebih rendah, dan tentunya Premium (RON 88) seharusnya di kisaran IDR 4.500 per liter.

Mari kita bandingkan dengan harga Gasoline di Malaysia yang pada hari ini Untuk RON 97 sebesar RM 1,93 (turun RM 0,27 dari harga sebelumnya) menjadi RM 2,23 setara dengan IDR 7.698/ liter dan harga RON 95 sebesar RM 1,93) setara dengan 6.663/liter.

Bagaimana bisa menjelaskan perbandingan dimana harga Pertama Turbo (RON 97) Malaysia hampir sama dengan harga Pertalite (RON 90) di Indonesia dan harga Pertamax Plus RON 95) di Malaysia hampir sama dengan harga Premium (RON 88) di Indonesia. Padahal jika menggunakan seluruh parameter baik produksi dan keseluruhan proses, maka Activity Base Costing penentuan harga Gasoline Malaysia dan Indonesia hampir seluruhnya sama. Mengapa pertamina mematok harga sampai setinggi itu? bahkan selisih Pertamax Turbo antara Indonesia dan Malaysia saja sebesar IDR 4.300 per liter.

Bahkan harga-harga yang direlease menggunakan asumsi seluruh BBM itu impor seluruhnya 100 persen pun, harga BBM seharusnya 30-35 persen lebih rendah dari harga saat ini, dengan Break Event Pont (BEP) 80-85 persen. Jadi berhentilah untuk mengatakan masih ada subsidi untuk BBM tertentu, dan seharusnya Pertamina menjadi BUMN terkaya di Indonesia dengan keuntungan fantastis dari berdagang BBM dengan Rakyat Indonesia.

Perlu rasanya pemerintah memperhatikan ini karena kedudukan BBM dalam perekonomian sangat strategis dan menentukan, memicu kenaikan harga-harga baik produk maupun jasa, serta indikator-indikator ekonomi lainnya. Kecuali pemerintah bisa memastikan “mission impossible” bahwa kenaikan harga BBM tak berpengaruh pada kenaikan harga-harga lain baik produk maupun jasa, jadi hanya BBM yang naik dan mahal..

Lalu kapan pemerintah negara ini menjadikan Rakyat sebagai subjek dan tidak terus menerus sebagai objek? dan berhenti berbisnis dengan Rakyat?

Oleh:
Refrinal, Chief Executive Officer at PT Riset Internasional Indonesia

Berempat.com