Presiden Jokowi didampingi Wakil Presiden dan sejumlah menteri mengumumkan lokasi pemindahan iu kota negara, di Istana Negara, Jakarta, Senin (26 Agustus) siang. (Foto AGUNG Humas Kepresidenan RI)
Berempat.com

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menumumkan Ibu Kota akan pindah Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Menurutnya, rencana pemindahan ibu kota negara sudah digagas sejak lama, bahkan sejak era Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

“Sebagai bangsa besar yang sudah 74 tahun merdeka, Indonesia belum pernah menentukan dan merancang sendiri ibu kotanya,” kata Presiden Jokowi dalam konperensi pers mengenai lokasi pemindahan ibu kota, di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/8) siang.

Menanggapi perpindahan ibu kota tersebut, advokat senior Kamaruddin Simanjuntak,S.H memberikan saran dan kritik yang membangun bagi pemerintah seperti berikut:

Dahulu kala, Ada seorang Pria bernama Jokowi Widodo mengaku sebagai Walikota Solo, datang memperkenalkan diri dari Kota Solo ke Kota Jakarta dan membawa mobil Esemka, katanya Mobil tersebut Karya atau Ciptaan Murid SMK Solo binaannya.

Ketika itu, Beliau menawarkan solusi atas permasalahan Ibu Kota Jakarta yaitu “Macet & Banjir”, bahwa bila beliau terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, maka permasalahan ” Macet & Banjir ” Ibu Kota Jakarta, akan bisa beliau atasi.

Selanjutnya, “Viral & Geger” bahwa Mobil SMK bakal jadi Produk Otomotif Nasional andalan Dalam Negeri NKRI, entah siapa yang memviralkannya ?

Saya sempat terpesona kepada Beliau “WAOW MANTAP” namun karena tidak dijelaskan secara rinci tentang cara mengatasi “Macet dan Banjir’ Ibu Kota Jakarta itu, maka saya hanya terpesona sebentar saja.

Pada akhirnya Jokowi Menjadi Gubernur DKI Jakarta Periode 15 Oktober 2012 – 16 Oktober 2014, namun Setelah beliau terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, beliau tidak berhasil mengatasi “Macet & Banjir” Ibu Kota Jakarta.

Kemudian beliau “Berdalih & Berkeluh Kesah” bahwa “MENGATASI” macet dan banjir Ibu Kota Jakarta, tidak cukup dengan jabatan hanya setingkat Gubernur DKI Jakarta, karena permasalahan yang ada ternyata adalah antar Kota antar Provinsi (AKAP), yaitu melibatkan Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten atau dikenal sebagai daerah Penyangga Ibu Kota Jakarta, sehingga perlu Jabatan yang lebih tinggi lagi, sepertinya dalih dan keluh kesah beliau itu sedikit masuk akal juga.

Selanjutnya, untuk bisa mengatasi “Dalih & Keluh Kesah Jokowi Tersebut”, pada akhirnya Jokowi mencalonkan diri menjadi Presiden RI dan terpilih, walaupun awalnya Jusuf Kalla sangat menentang Beliau pada periode pertama, karena menurut ramalan Jusuf Kalla waktu itu, “Negara Indonesia bakal hancur dan rusak bila Jokowi terpilih menjadi Presiden RI” namun ketika jabatan Wakil Presiden RI diberikan kepada Jusuf Kalla, maka ramalan Jusuf Kalla tentang kerusakan & kehancuran negara RI itu, bisa berubah pula seketika menjadi berkah, dengan alasan bahwa Jusuf Kalla telah berpengalaman.

Bahwa ada juga Seorang Tokoh Ulama bernama Makruf Amin, dkk., mengeluarkan “Fatwa Haram MUI” kepada Sahabat Jokowi bernama “Basuki Tjahya Purnama alias Ahok” sehingga Jokowi pun terus kena sasar Fatwa Haram itu dengan aksi demo berjilid-jilid didepan istana Negara dan Monas, karena persahabatan dan kedekatan Jokowi dengan Ahok waktu itu.

Bahwa ketika itu, sdr. Ahok menduduki Jabatan Gubernur DKI Jakarta, pengganti Jokowi pasca terpilih menjadi Presiden RI, hingga berujung pada Penetapan “Tersangka & Penangkapan” para aktifis Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Haram atau gerakan Aksi 212.

Bahwa ketika itu, Saya ditunjuk oleh Ibu Dr. Hj. Dyah Pramana Rachmawati Soekarno Puteri,S.H., sebagai Pengacara-nya atas statusnya sebagai Tersangka Makar, maka bersama Rekan Prof Dr. Yusril Ihza Mahendra,S.H., kami pun berhasil membebaskan mereka, itupun juga atas peran aktif Bapak Jenderal (P) Luhut Binsar Panjaitan selaku Menteri koordinator, dengan janji beliau “Soft Landing” hal itu pun kami sambut dengan baik, sehingga berakhir dengan damai.

Kamaruddin Simajuntak mendampingi putri Presiden RI pertama, Rachmawati Soekarnoputri (dok detik.com)

Puji Tuhan Elohim, Bapak Makruf Amin telah terpilih menjadi Wapres untuk Pasangan Jokowi untuk Presiden periode ke-2 dan Rekan saya Prof Dr. Yusril Ihza Mahendra,S.H menjadi Ketua Pengacara Jokowi, begitulah pendirian para politisi dan politik Kekuasaan, semuanya berdasarkan kepentingan politik, tinggal saya sendirian konsisten dengan pendirian Advokat yang selalu Kritis dalam membangun NKRI.

Bahwa yang mengagetkan adalah, justeru Jokowi merubah alur berpikirnya dari awalnya menawarkan solusi “Bisa mengatasi Macet & Banjir Ibu kota Jakarta, Kemudian Jabatan Gubernur DKI Jakarta kurang tinggi untuk bisa mengatasi Banjir dan Macet ibu kota Jakarta, sehingga harus menjadi Presiden RI baru bisa mengatasi Macet & Banjir Ibu Kota Jakarta karena persoalannya adalah antar kota dan antar propinsi, dan setelah Jokowi terpilih 2 Periode sebagai Presiden RI, malah Jokowi berubah pikiran, menjadi Ibu Kota Jakarta harus pindah ke Kalimantan karena alasan “Macet dan Banjir serta Penduduk yang padat” di Jakarta.

Pertanyannya adalah apa yang telah dilakukan Jokowi selama 1 periode Gubernur DKI Jakarta dan Presiden RI selama ini untuk mengatasi “Macet & Banjir” Ibu Kota Jakarta … ??? kok permasalahannya itu-itu saja.

Menurut saya, ide pemindahan Ibu Kota Negara ini, justeru keliru cara berpikirnya beliau, seharusnya Jokowi menggunakan pendekatan: 1. “Who are We?” atau Kenali diri sendiri dan kemampuan Ekonomi Negara RI, ke-2. “What Our Goal?” Tahu Arah & Tujuan Kebijakan Politik Negara RI, dan yang ke-3 “How We Get There?” mengetahui tentang cara mencapai tujuan pemindahan Ibu Kota Negara dimaksud sebelum bertindak, harus ada dulu dilakukan berbagai Penelitian dan kajian dari berbagai aspek dan survey?

Bahwa tujuannya adalah agar pemikiran & arah kebijakan beliau selaku Presiden RI, tidak berubah-ubah terus, maaf saja, saya malah kawatir, setelah Ibu kota Negara pindah ke Kalimantan, dan ternyata digerogoti oleh Asap Tebal akibat Kebakaran, dan Presiden Negara asing beserta Duta Besarnya justeru tidak mau datang ke kalimantan menghirup Asab karena kawatir sakit paru-paru akut, malahan nanti beliau akan berpikir kembali lagi ke Jakarta !

Seperti lagu, “Ke Jakarta Aku Kan Kembali”

Semoga kritik dan saran ini berguna

Horas.

Kamaruddin Simanjuntak,S.H.

Berempat.com