Petugas merekam data identitas warga saat pembuatan Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) di Dinas Kependudukan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Selasa (23/8). Berdasarkan data Disdukcapil Kabupaten Jombang, sekitar 20-25 ribu jiwa dari total 984.230 jiwa wajib e-KTP di Jombang saat ini belum melakukan perekaman. ANTARA FOTO/Syaiful Arif/aww/16.
Berempat.com

Kartu Tanda Penduduk (KTP) kini bukan hanya menjadi hal warga yang waras. Penduduk yang mengalami gangguan kejiwaan pun berhak memiliki KTP. Apalagi jelang Pemilu Saat ini. Selain bisa digunakan untuk menjoblos, juga KTP berfungsi bagi mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Karena itu, Pemerintah getol melakukan jemput bila melakukan perekaman data, foto dan sidik jari pada warga yang kurang waras tersebut.

Namun dalam preses tersebut tak sedikit tantangan yang dihadapi petugas. Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Banjarmasin Khairul Saleh mengungkapkan ada anggotanya kena tampar.

“Banyak yang mengamuk saat kita rekam sidik jarinya, bahkan ada yang kena tampar, maklumlah kan mereka sakit jiwa, tidak mengapa,” ujarnya menceritakan pengalaman anak buahnya di lapangan, Senin (7/1).

Sejauh ini, kata dia, sudah puluhan orang gila dapat mereka rekam data pribadinya untuk pembuatan KTP-el tersebut layaknya warga normal. “Pokoknya asal ada permintaan, kita datangi,” katanya.

Saleh mengatakan dari jumlah penduduk Banjarmasin yang berjumlah sekitar 600 ribu jiwa, sudah 90 persen lebih yang datanya terekam untuk pembuatan e-KTP. Kendala yang dihadapi institusinya, kata Saleh, adalah masalah pencetakan e-KTP lantaran minmnya ketersediaan blanko.

“Jadi mohon dimaklumi kalau tidak cepat selesai, hanya dapat KTP-el sementara, sebab blanko yang minim, hanya diprioritaskan dulu yang sangat penting, misalnya untuk buat paspor atau lulus CPNS, karena wajib memiliki segera,” ujarnya.


Berempat.com