Berempat.com

Jika pembeli investor lebih dominan, proyek properti bisa dipastikan akan sulit untuk segera hidup. Proyek akan menjadi ghost town. Kalau sudah begini, orang yang akan menyewa pun jadi tidak tertarik sehingga harganya sulit diharapkan cepat naik

Pengembangan proyek properti tidak hanya sekadar membangun dan menjual. Lebih dari itu. Salah satunya adalah bagaimana membuat proyek properti yang dikembangkan menjadi hidup sehingga tidak menjadi ghost town (kota hantu). Pasalnya banyak kerugian yang akan menghampiri jika hal itu terjadi. Mengapa?

Properti bukan hanya seonggok bangunan yang berdiri di atas bumi. Ia harus bernyawa dan nyawanya berasal dari manusia karena properti dibangun untuk menjadi sarana kehidupan manusia. Sebuah perumahan atau apartemen harus dihuni sehingga terbentuk komunitas yang hidup dengan beragam aktifitas manusia.

Bayangkan jika perumahan atau apartemen hanya dihuni beberapa orang saja. Sunyi dan senyap. Menyeramkan. Bisa jadi, akhirnya penghuni yang ada angkat kaki. Pindah karena takut. Jika sudah begitu, orang luar pun tentu enggan untuk datang menghuni, baik dengan membeli atau menyewa.

Nilai properti pun akan anjlog. Pasalnya, nilai poperti akan meningkat jika diinginkan oleh banyak orang. Hukum pasar, jika supply sedikit sementara demand banyak maka harga akan meningkat. Nah, kalau properti tidak ada peminatnya, nilainya akan stagnan bahkan bisa terjun bebas.

Jika itu terjadi, citra pengembang akan jelek karena dianggap gagal dalam mengembangkan sebuah proyek properti. Melihat kondisi itu para pengembang harus memikirkan bagaimana proyek yang dikembangkan menjadi hidup. Banyak cara yang bisa dilakukan.

Seperti yang dilakukan PT Summarecon Agung Tbk.. Sebelum “bercerai” dengan Batik Keris Group, kawasan Gading Serpong yang dikembangkan bersama melalui PT Jakarta Baru Cosmopolitan menjadi ghost town karena properti yang ada kebanyakan dibeli oleh investor dan spekulator sehingga tidak dihuni.

Menurut founder konsultan properti Projek & Proviz, Andy K Natanael, komposisi konsumen perlu dipertimbangkan. Perbandingan pembeli investor dengan enduser (pemakai akhir) harus lebih banyak end user, supaya perumahan/apartemen cepat hidup. Kalau sebaliknya, konsumen investor lebih dominan, proyek properti itu sulit untuk segera hidup. “Proyek akan menjadi ghost town. Kalau sudah begini, orang yang akan menyewa pun jadi tidak tertarik sehingga harganya sulit diharapkan cepat naik,” ujar Andy.

Hal yang sama dikatakan Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto. Dia mengatakan proporsi antara end user dan pembeli yang membeli untuk investasi seharusnya seimbang. Akan lebih baik lagi bila pembeli end user lebih banyak. “Harus seimbang karena jika lebih banyak investor, unit tidak ditempati, sehingga pada akhirnya tidak ada pergerakan, kemudian properti value-nya juga akan sulit naik. Jika end user lebih banyak, jauh lebih sehat sebenarnya,” kata Ferry.

Berempat.com