veronica (dok http://wahyuwidyaning.blogspot.com)
Berempat.com

 

My company is the only one company in Indonesia. Kita adalah sesuatu yang pertama dan sampai hari ini, hanya satu-satunya di Indonesia.” Ya, sosok wanita yang satu ini patut menjadi teladan untuk para pebisnis muda dan pemula. Tentu bukan hanya sosoknya yang menarik untuk dipelajari, kisah hidupnya yang penuh kejutan pun menarik untuk disimak.

Dalam suasana santai penuh keakraban, Direktur yang juga owner PT Masterindo Multiguna, Veronica Ratna Ningrum dengan senang hati berbagi cerita inspiratif di Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta.

Vey demikian sapaan akrabnya, patut berbangga diri, berdiri sendiri tanpa pesaing di bidang bisnis yang tengah digelutinya. Dalam membangun bisnis, sejak awal Veronica tak ingin menjadi follower seperti kebanyakan pengusaha. Menerapkan strategi marketing one stop service, unik dan progresif, Masterindo Multiguna kini melaju pesat dan sukses mengantar sejumlah klien mencapai target dan meraup untung.

Menawarkan ide kreatif dan konsep praktis mencapai target, bisnis yang dibangun Vey pada tahun 2006 ini banyak dipilih berbagai perusahaan besar untuk menjalankan beberapa program marketingnya. Mulai dari bank pemerintah hingga swasta, seperti Bank BNI, BRI, BCA, CIMB Niaga Syariah serta sejumlah swalayan misalnya Indomart dan Yogya Department Store. Mereka inilah sejatinya telah merasakan keuntungan berkat tangan dingin dan jaringan luas yang dimiliki Veronica.

“Bank-bank BUMN saat ini ada pengkerucutan karyawan, sementara dari devisit kartu kredit, mereka punya target besar. Misalnya kartu kredit A punya target Rp 1 triliun, sementara dia punya karyawan di departemen itu hanya 10 orang. Bagaimana supaya target itu terpenuhi, yaitu dengan membesarkan transaksi. Lalu bagaimana transaksi itu dibesarkan, dengan membikin suatu program, seperti Buy One Get One atau diskon 30%. Seperti itu, ada beberapa bank yang mendealkan langsung, ada juga memakai jasa agensi seperti perusahaan saya. Dari situ penghasilan kita. Istilahnya bridging. Itu adalah bagian dari promo marketing,” kata Veronica menjelaskan pola permainan bisnisnya.

Adapun program lain yang juga ditawarkan Masterindo Multiguna di antarannya program acquisition, program redemption, loyalty rewards bagi customer, dan program lainnya yang dijalankan oleh pihak perbankan. Semua program tersebut dirancangnya secara unik, beda, dan menjadikan setiap bank tersebut memiliki program yang khas.

Beberapa jasa lain yang juga ditawarkan Masterindo Multiguna diantanya Goodies/Welcoming Pack, Event Organizer, Language Consultants dan juga Sales Promotion Girls. Khusus untuk Sales Promotion Girls, Veronica menjamin SPG yang direkrutnya berkualitas dengan kualifikasi pendidikan minimal D1 dan telah memiliki pengalaman di beberapa event terutama yang berhubungan dengan dunia perbankan.

“Selain agensi Bank, saya supplier retail juga yaitu pengadaan merchandise. Misalnya Indomart memberi hadiah mug, kaos, payung dll, itu kita yang ngadain. Indomart tidak mungkin meproduksi sendiri,” sambungnya lugas.

Jaringan kolega yang luas dan agresivitas marketing adalah buah dari pengalaman kerja selama bertahun-tahun. Sebelumnya Veronica merupakan seorang bankir. “Saya pernah bekerja di AMEX (American Express Bank) paling tidak dunia bank saya tahu, karena dulu saya bekas orang bank. Saya tahu kebutuhannya bank seperti apa, tenaga kerja sedikit tapi target transaksinya besar,” ujarnya.

Veronica juga pernah bekerja di Televisi Singapura, Rumah Sakit Singapura, Grup Ranch Market, serta di California Fried Chicken.

From Zero

Bukan tanpa hambatan pada saat Veronica merintis usaha. Minim budget dan jasa yang ia tawarkan ketika itu tak lazim di Indonesia. Sehingga pada mulanya, Veronica menerapkan sistem ketuk pintu.

“Dulu sistemnya kita ketuk pintu, istilahnya menawarkan diri, lalu diragukan. Karena saya jual jasa, lalu klien tanya ‘saya harus bayar Anda atas jasa apa?’ lalu saya jawab jasa bridging dan saya menjelaskan konsepnya seperti apa,” jelas Veronica.

Sarjana Ekonomi dari Universitas Kristen Indonesia ini merintis usaha dari nol. Veronica merogoh uang tabungannya yang selama bertahun-tahun ia sisihkan sebesar Rp 50 juta untuk memulai bisnis mandiri dan independen ini.

“Saya seperti ini bukan berasal dari keluarga kaya. Start from the zero. Dulu kantor saya luasnya hanya 3×4 itu pun mengontrak. Sekarang saya sudah punya tiga kantor,” ucapnya bangga.

Pergolakan hidupnya terbilang cukup keras. Veronica merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya seorang polisi dan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. “Bapak saya keras dan disiplin. Pola didiknya ala-ala polisi. meskipun libur sekolah, jam 6 pagi harus bangun,” kisahnya.

Kedua orangtuanya terutama sang Ayah sangat menekankan dan menomor-satukan pendidikan anak-anaknya. Sehingga masa kecil Veronica hidup dalam kesederhanaan dan apa adanya.

“Bapak mementingkan pendidikan bukan materi. Bapak kalau punya uang, selalu investasi properti. Dia bukan tipikal orang kalau punya uang lalu beli mobil atau membangun rumah yang lebih besar. Punya uang sedikit, beli tanah. Beli barang yang nanti suatu saat anaknya kuliah bisa dijual,” kata Veronica.

Pengorbanan sang Ayah ternyata tak sia-sia. Meskipun hanya seorang polisi, keenam anaknya mengenyam pendidikan tinggi hingga level magister.

“Di rumah itu seperti layaknya asrama, nggak punya pembantu. Jadi setiap hari ada schedule kerja. Misalnya hari Senin yang nyuci baju si A, hari Selasa yang seterika baju si B, yang nyapu siapa, yang ngepel siapa. Begitu seterusnya setiap hari. Kita cewek-cewek diajarkan pekerjaan laki-laki, jadi dari kecil sudah diajarkan how you deal your life. Bapak saya keras karena anaknya enam, kalau beliau nggak keras, mungkin kita nggak akan berhasil. Beliau punya cita-cita semua anaknya bisa kasih makan banyak orang. Itu tertanam di benak saya sampai hari ini,” ujarnya.

“Dulu kita pengen banget makan nasi padang, karena dulu nasi padang itu mewah sekali. Jadi Bapak kalau ada sedikit uang lebih, beliau beli satu bungkus nasi padang tapi untuk 6 anak, harus kebagian semua. Nasinya ditambahin atau kuahnya dibanyakin. Setiap hari makannya tahu. Pagi makan tahu, siang tahu, malam juga tahu. Bapak juga nggak punya kendaraan, ke mana-mana naik bis tapi anak-anaknya semua S2 dan mostly di luar negeri,” tambah Veronica yang bergelar Master of Business Administration dari Southern Illinois University, Amerika Serikat.

Lembaga Pendidikan

Veronica tak hanya fokus di bidang bisnis yang orientasinya adalah meraup untung sebanyak-banyaknya, ia juga mendirikan lembaga pendidikan kursus Bahasa Inggris sebagai bentuk kontribusinya terhadap generasi muda dan tanah air. Bulan April lalu, Veronica mendirikan kursus Bahasa Inggris Liberty English Class untuk kalangan anak Sekolah Dasar dan kelas karyawan.

Sistem belajar yang diterapkan yakni bagaimana menekankan supaya orang percaya diri berbicara Bahasa Inggris. Karena menurut Veronica, rata-rata orang Indonesia secara teori itu mengerti tapi ketika berbicara timbul ketidakpercayaan pada dirinya. Tenaga pengajarnya ia datangkan dari Filiphina.

“Saya agak terbeban dan banyak menemui manajer-manajer atau karyawan yang kerja di perusahaan besar tapi nggak bisa berbahasa Inggris. Mungkin bisa tapi nggak punya confidence untuk ngomong Bahasa Inggris. Termasuk karyawan saya pun begitu. Lalu saya terpikir bagaimana mengatasi masalah itu, saya bikinlah kursus Bahasa Inggris. Walaupun saya pengusaha, saya juga ingin berkontribusi untuk Indonesia menuju hal yang positif, salah satunya lewat pendidikan. Sehingga generasi-generasi Indonesia ke depannya paling tidak dia mampu bersaing dengan asing. Dasarnya melalui bahasa. Because English is the first language. Bagaimana kita mau berbisnis atau deal-deal-an bisnis dengan asing kalau nggak mampu berbahasa Inggris,” terang Veronica.

Kini di lembaga kursus tersebut, Veronica mempekerjakan sebanyak 22 karyawan. Sedangkan pada bisnis konsultan marketing, Veronica memiliki 36 orang karyawan.

“Saya harus bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Kalau saya berhasil, orang lain juga harus bisa menikmati. Saya ingin punya pegawai yang banyak supaya saya bisa membuka lapangan pekerjaan di Indonesia. Kuncinya niat yang kuat, tekun, jangan perdulikan cercaan orang dan jangan gengsi. Saya lulusan S2 Amerika pulang ke Indonesia jadi sekretaris, disuruh-suruh beli ketoprak sama bos, saya jalan. Saya nggak pernah malu. When you start to be arogan person, itulah yang menjadi kendala kehidupan Anda di kemudian hari,” tutup Veronica tersenyum.

Berempat.com